Sebelum adikku menikah, dia sempat tinggal bersama kami. Dia hobbi banget mancing. Setiap hari minggu dia selalu pergi memancing bersama teman-temannya. Yang aku ketahui dia tu sering banget mancing ke Muara Badak. Setiap pulang dari mancing dia selalu membawa hasil pancingannya berupa ikan kakap ataupun udang. Itulah sebabnya kami sekeluarga tertarik untuk ikut mancing ke Muara Badak bersama dia.
Pas hari libur kami sekeluarga berencana ikut mancing ke Muara Badak bersama adikku dan teman-temannya. Untuk itu kami mempersiapkan bekal untuk keperluan kami. Selain peralatan mancing, kami juga membawa bekal makanan berupa nasi dan sambal.
Kami sengaja tidak membawa lauk-pauk, karena kami berencana membakar hasil pancingan kami untuk makan siang kami sekeluarga di tempat pemancingan. Kami juga membawa tempat pembakaran ikan dan arang, agar kami tidak repot-repot jika mau bakar ikan hasil pancingan kami. Kami sudah membayangkan betapa nikmatnya makan ikan bakar yang masih segar di alam terbuka dengan pemandangan yang indah.
Sehabis sholat Shubuh kami berlima; aku, suamiku, anakku, adikku dan teman adikku berangkat bermotor ke Muara Badak. Kami menggunakan 3 motor. Aku bonceng suamiku, adikku sama anakku, sedangkan teman adikku naik motor sendirian.
Jarak Samarinda dan Muara Badak lumayan jauh kurang lebih 70 km. Kalau dari Samarinda lewat jalur ke kota Bontang, tapi di pesimpangan sebelum Bontang kita belok ke kanan. Perjalan yang ditempuh membutuhkan waktu kira-kira 1 jam. Sekitar jam 6.00 pagi kami sudah sampai di tempat pemancingan.
Ternyata bukan kelompok kami saja yang sengaja melungkankan waktu untuk memancing di sana. Ada beberapa kelompok yang sudah sampai di tempat itu, bahkan ada juga yang sudah mendapatkan ikan hasil pancingan. Alam yang bersahaja dengan pemandangan yang elok menambah semangat kami di tempat pemancingan. Di sana telah di sediakan tempat khusus bagi para pemancing. Ada dibangun jembatan khusus yang terbuat dari kayu yang diberi atap untuk tempat berlindung bagi para pemancing.
Dengan semangat 45 kami mulai turunkan kail kami masing-masing. Kami tidak mau kalah bersaing dengan kelompok yang lain untuk mendapatkan ikan hasil pancingan. Matahari mulai tinggi, badan kami pun mulai bermandikan peluh. Tapi dengan sabar kami tetap menjaga stick pancing kami masing-masing sampai umpan kami disambar oleh ikan.
Label:
Pengalaman pribadi