Senja yang kelam. Langit tertutup oleh awan hitam. Gelap... seperti hari sudah hampir malam. Sang mentaripun bersembunyi dibalik rimbunnya awan hitam. Sekelompok burung walet berarak, ingin kembali ke sarangnya.
Aku masih berdiri di sini. Di bawah sebatang pohon dengan dedaunan yang rimbun. Di sinilah aku biasanya menunggunya. Setiap waktu jika aku ingin melepaskan rindu. Walau hanya sekejap. Walau hanya menikmati pandangan matanya. Walau tanpa pelukan hangat, tapi kedatangannya tetap ku nantikan. Tuk menjawab tutur sapanya. Tuk sekedar mendengar cerita indahnya.
Titik-titik air hujan telah turun. Membasahi dedaunan yang berdebu. Membasahi jalanan, membasahi apapun yang ada di atas bumi. Tapi aku belum ingin beranjak dari tempatku berdiri. Aku berpikir, "mungkin dia sedikit terlambat datang." Untuk itu aku ingin bersabar. Biarlah rambut dan bajuku sedikit basah. Masih ada rimbunnya dedaunan, tempatku berteduh.
Mata ini sedikitpun tak mau berkedip, terus memandang ke arah, dimana biasanya dia datang. Aku tak ingin melewatkan waktu sedetikpun. Dan kehilangan moment yang mendebarkan hati ini. Dimana saat pertama kali aku menatap matanya yang penuh keteduhan.
Karena kesabaranku, akhirnya yang ku tunggu-tunggu datang juga. Jantung ini mulai berdetak dengan kencang. Dalam hati, aku ingin berteriak memanggilnya. Tapi bibir ini terasa pelu. Tak sanggup mengucap, walau hanya sepatah kata. Bisu... hanya gemuruh air hujan yang menyeruak. Titik-titiknya deras menguyur tubuhku. Aku tetap menunggunya sampai dia melihatku dan menyapaku.
Tapi apa yang ku harapkan, hanyalah sebuah angan-angan. Jangankan menyapaku, menoleh ke arahku saja dia tak sudi lagi. Apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa dia tak meliahatku di sini? Yang sedang menunggunya.
Kenapa dia tak peduli lagi denganku? Apakah dia sudah tak ingat lagi, mawar merah yang selalu dia kirimkan kepadaku. Mawar digenggamanku tak terasa jatuh terhempas. Hanyut dibawa air hujan.
Aku masih berharap dia kembali. Atau menoleh ke arahku dan melihatku yang sedang tersungkur memunguti untaian mawar yang tercecer di atas air hujan. Aku berharap dia menaruh belas kasihan kepadaku, sehingga dia menolongku, memunggut setangkai mawar untukku.
Tapi apa yang ku harapkan tak pernah terjadi. Dia membiarkan aku sendirian. Kepedian hati ini tak berhenti sampai di sini. Ternyata dia kembali lewat di depanku bersama wanita lain. Berjalan sepayung berdua dan seolah-olah tidak melihatku. Betapa hancur hati, ceceran mawar ku biarkan hanyut dibawa air hujan. Karena durinya telah menusuk hatiku.
Apa yang terjadi sungguh membuat tubuhku lunglai. Kepedihan hati ini terasa perih. Aku berjalan tanpa arah tujuan. Melewati malam yang gelap. Menerjang hujan yang tak kunjung redah. Seperti derasnya air mata yang meleleh di pipiku.
Label:
Cerpen
Jumat, 20 Juni 2014
Kamis, 12 Juni 2014
Malam Nisfu Syaban
0
Diposting oleh
Unknown at 16.42
Ketika Purnama mulai membias di langit senja
Ku tatap langit tampak bercahaya
Sinar terangnya begitu bersahaja
Illahi Robbi sang Pencipta alam semesta
Ya... Allah
Ya... Robbi
Hambamu ingin mensucikan hati
Membersihkan segala noda
Memohon ampunan dari segala dosa
Ya... Allah
Aku bersujud di hadapanMu
Memohon atas berkahMu
Mudahkan kami mencari rizki
Lancarkanlah urusan duniawi
Ya... Allah
Aku bersimpuh di depanMu
Terangi hati dan jiwaku
Dengan rahmat dan hidayahmu
Mudahkanlah jalanku menuju surgamu
Label: Puisi
Ku tatap langit tampak bercahaya
Sinar terangnya begitu bersahaja
Illahi Robbi sang Pencipta alam semesta
Ya... Allah Ya... Robbi
Hambamu ingin mensucikan hati
Membersihkan segala noda
Memohon ampunan dari segala dosa
Ya... Allah
Aku bersujud di hadapanMu
Memohon atas berkahMu
Mudahkan kami mencari rizki
Lancarkanlah urusan duniawi
Ya... Allah
Aku bersimpuh di depanMu
Terangi hati dan jiwaku
Dengan rahmat dan hidayahmu
Mudahkanlah jalanku menuju surgamu
Label: Puisi
Kamis, 05 Juni 2014
Pemuja Cinta
0
Diposting oleh
Unknown at 16.13
Kasih....
Malam ini aku menunggumu
Menitih malam tuk membalut rindu
Ajaklah aku terbang ke awan
Dekaplah aku dalam pelukan
Kasih....
Cumbui harumnya mawar merahku
Sirami dengan kasih sayangmu
Hangatkan dengan tulus cintamu
Hingga menyatu jiwa dalam geliat tubuhku
Label: Puisi
Malam ini aku menunggumu
Menitih malam tuk membalut rindu
Ajaklah aku terbang ke awan
Dekaplah aku dalam pelukan
Kasih....
Cumbui harumnya mawar merahku
Sirami dengan kasih sayangmu
Hangatkan dengan tulus cintamu
Hingga menyatu jiwa dalam geliat tubuhku
Label: Puisi
Sabtu, 24 Mei 2014
Udang Saos Pedas Ala Ladymate
0
Diposting oleh
Unknown at 11.07
Sahabat Ladymate... jumpa lagi dengan kuliner ala Ladymate. Kali ini saya share kuliner sari laut sebagai bahan utamanya yaitu Udang.
Bahan-bahan:
1/4 udang segar berukuran sedang
2 buah wortel
Bumbu-bumbunya:
3 siuang bwg putih
4 bj bwg merah
10 bj cabe
1 btg bwg pre
2 sdm saos pedas
1/2 sdt saos tiram
1 sdm kescap manis
Garan, gula psr, pepsin secukupnya.
Minyak goreng secukupnya untuk menumis bumbu.
Cara membuatnya:
Label: Kuliner
Bahan-bahan:1/4 udang segar berukuran sedang
2 buah wortel
Bumbu-bumbunya:
3 siuang bwg putih
4 bj bwg merah
10 bj cabe
1 btg bwg pre
2 sdm saos pedas
1/2 sdt saos tiram
1 sdm kescap manis
Garan, gula psr, pepsin secukupnya.
Minyak goreng secukupnya untuk menumis bumbu.
Cara membuatnya:
- Udang dibersihkan lalu goreng setengah matang. Wortel dikupas, cuci bersih lalu iris tipis serong.
- Bawang putih dikeprok iris tipis. Bawang merah iris tipis. Cabe dan bawang pre iris serong
- Semua bumbu ditumis dg minyak grg panas sampai berubah warna n beraroma harum. Lalu tambahkan sedikit air. Masukan udang dan irisan wortel. Tambahkan garang, gula pasir, pepsin, saos tiram, saos pedas dan kecap manis. Aduk rata dan tunggu sayuran layu hingga kuah menggental lalu angkat. Dan hidangkan.
SELAMAT MENCOBA!
Label: Kuliner
Senin, 19 Mei 2014
AIR MATA CINTA
0
Diposting oleh
Unknown at 14.20
Ke hutan aku berlari
Di dalam hutan aku duduk di tepi sungai
Riak-riak airnya menambah pedih di hati
Aku menangis dan air mataku jatuh di atas air sungai
Titik-titik air mataku larut dan tiada berbekas
Tapi cinta dan sayangku tetaplah membekas
Terukir di dalam hatiku
Terpatri di dalam jiwaku
Tiba-tiba hujan turun dengan deras
Disertai angin datang menghempas
Menghempaskan hati dan jiwaku
Hingga aku tak perdaya karena cinta yang semu
Oh... Tuhan, tuntunlah hambamu yang lemah ini
Telah terpedaya oleh kenikmatan yang tak hakiki
Hingga melupakan karunia yang abadi
Ternyata hanya kasihMu yang tak pernah berhenti
Label: Puisi
Sabtu, 19 April 2014
Menunggu Bintang
0
Diposting oleh
Unknown at 11.55
Sang mentari
mulai temggelam di ufuk barat. Itu suatu pertanda bahwa tugasnya telah
berakhir. Langit mulai dihiasi oleh kiasan berwarna jingga. Seiring datangnya
warna gelap yang menyelimuti langit biru, kiasan berwarna jingga perlahan menghilang.
Awan hitam datang berarak-arak menutupi indahnya malam. Kecantikan malam semakin
memudar.
Aku duduk di sini. Di bawah langit yang
semakin kelam. Aku menunggumu. Menunggu bintang yang engkau janjikan. Bintang
yang bersinar terang. Tapi tak satupun bintang yang tampak di sini. Yang ada hanyalah
sepi. Begitu sepi sesepi hatiku. Gelap segelap rasa yang ada di dalam jiwaku.
Rintihan kerinduan begitu menyayat.
Rembulan yang
biasanya menghiasi indahnya malam tak jua ada di atas sini. Yang ada hanyalah
gelap. Kecantikan wajah sang rembulan tak tampak karena dihalangi oleh gumpalan
awan hitam. Wajah cantik sang rembulan yang anggun menjadi murung dan sedih. Dia
sangat kecewa. Seperti kekecewaan dalam hatiku. Sejak senja
dia sudah bersolek dan ingin menampakan wajah cantiknya, tapi awan gelap
menghalanginya.
Aku masih di
sini. Tetap menunggu hingga larutpun tiba. Tapi bintang yang kau janjikan tak
jua datang. Yang ada hanya rintihan binatang malam yang kedinginan. Seperti
rintihan dalam hatiku yang menunggumu dalam kesepian.
Teman malamku
pun mulai berdatangan. Hembusan angin malam mendayu-dayu. Melantunkan lagu kerinduan.
Membisik syair-syair kesedihan. Seolah-olah mengiris hati yang kesepian. Rasa dinginnya
begitu menusuk di kalbu.
Malam semakin
larut. Aku tetap di sini, tapi bintang yang kau janjikan tak jua datang. Rasa benci
dan rindu mulai datang menyelimuti hatiku. Dua rasa ini bak dua mata pisau yang
sama tajamnya menusuk ke dalam dadaku. Begitu perih. Begitu pedih. Tapi kau tak
pernah peduli.
Gerimis mulai
turun. Menyapu debu-debu di atas dedaunan. Aku segera mencari tempat untuk
berteduh. Tapi aku tak jua menyerah. Aku berharap setelah hujan reda, bintang
yang kau janjikan akan muncul di atas sana.
Hujan semakin
deras. Sederas air mata yang meleleh di pipiku. Tapi engkau tak pernah tahu.
Apa yang terjadi di sini. Aku tetap menunggu hingga malampun berakhir. Bintang
yang kau janji tak pernah datang. Hanya air mata yang menjadi saksi kepedihan
hati ini.
Label:
Cerpen
Kamis, 17 April 2014
Kekasih abadi
0
Diposting oleh
Unknown at 11.53
Kasih...
Dalam setiap detak jantungku
Dalam setiap desah napasku
Ku sebut namaMu
Menghiasi relung hatiku.
Selama hela napas ini masih berbaur dengan denyut nadiku
Aku selalu mengingatMu
Karena Kaulah kekasih yang tak pernah meninggalkanku.
Meskipun aku kadang lalai dengan panggilanMu.
Kau tak pernah memintaku untuk dekat denganMu,
Tapi Kau selalu mengawasi dan menjagaku.
Kau tak pernah mencampakanku
Meskipun dosa dan nista mengalir dalam darahku.

Kaulah Sang Penguasa hati
Kaulah Kekasih abadi
Penyejuk jiwa dalam dahaga
Pengampun dalam noda dan dosa
Samarinda, 17 April 2014
by : Ainun Sugianto
Label: Puisi
Dalam setiap detak jantungku
Dalam setiap desah napasku
Ku sebut namaMu
Menghiasi relung hatiku.
Selama hela napas ini masih berbaur dengan denyut nadiku
Aku selalu mengingatMu
Karena Kaulah kekasih yang tak pernah meninggalkanku.
Meskipun aku kadang lalai dengan panggilanMu.
Kau tak pernah memintaku untuk dekat denganMu,
Tapi Kau selalu mengawasi dan menjagaku.
Kau tak pernah mencampakanku
Meskipun dosa dan nista mengalir dalam darahku.

Kaulah Sang Penguasa hati
Kaulah Kekasih abadi
Penyejuk jiwa dalam dahaga
Pengampun dalam noda dan dosa
Samarinda, 17 April 2014
by : Ainun Sugianto
Label: Puisi
Langganan:
Postingan (Atom)


