Kamis, 12 Juni 2014

Malam Nisfu Syaban

0
Ketika Purnama mulai membias di langit senja
Ku tatap langit tampak bercahaya
Sinar terangnya begitu bersahaja
Illahi Robbi sang Pencipta alam semesta

Ya... Allah 
Ya... Robbi
Hambamu ingin mensucikan hati
Membersihkan segala noda 
Memohon ampunan dari segala dosa

Ya... Allah
Aku bersujud di hadapanMu
Memohon atas berkahMu 
Mudahkan kami mencari rizki
Lancarkanlah urusan duniawi

Ya... Allah
Aku bersimpuh di depanMu
Terangi hati dan jiwaku
Dengan rahmat dan hidayahmu
Mudahkanlah jalanku menuju surgamu







Kamis, 05 Juni 2014

Pemuja Cinta

0
Kasih....

Malam ini aku menunggumu

Menitih malam tuk membalut rindu

Ajaklah aku terbang ke awan

Dekaplah aku dalam pelukan


Kasih....

Cumbui harumnya mawar merahku

Sirami dengan kasih sayangmu

Hangatkan dengan tulus cintamu

Hingga menyatu jiwa dalam geliat tubuhku




Sabtu, 24 Mei 2014

Udang Saos Pedas Ala Ladymate

0
Sahabat Ladymate... jumpa lagi dengan kuliner ala Ladymate. Kali ini saya share kuliner sari laut sebagai bahan utamanya yaitu Udang.

Bahan-bahan:
1/4 udang segar berukuran sedang
2 buah wortel

Bumbu-bumbunya:
3 siuang bwg putih
4 bj bwg merah
10 bj cabe
1 btg bwg pre
2 sdm saos pedas
1/2 sdt saos tiram
1 sdm kescap manis
Garan, gula psr, pepsin secukupnya.
Minyak goreng secukupnya untuk menumis bumbu.

Cara membuatnya:

  1. Udang dibersihkan lalu goreng setengah matang. Wortel dikupas, cuci bersih lalu iris tipis serong.
  2. Bawang putih dikeprok iris tipis. Bawang merah iris tipis. Cabe dan bawang pre iris serong
  3. Semua bumbu ditumis dg minyak grg panas sampai berubah warna n beraroma harum. Lalu tambahkan sedikit air. Masukan udang dan irisan wortel. Tambahkan garang, gula pasir, pepsin, saos tiram, saos pedas dan kecap manis. Aduk rata dan tunggu sayuran layu hingga kuah menggental lalu angkat. Dan hidangkan.
SELAMAT MENCOBA!

   

Senin, 19 Mei 2014

AIR MATA CINTA

0

Ke hutan aku berlari
Di dalam hutan aku duduk di tepi sungai
Riak-riak airnya menambah pedih di hati
Aku menangis dan air mataku jatuh di atas air sungai

Titik-titik air mataku larut dan tiada berbekas
Tapi cinta dan sayangku tetaplah membekas
Terukir di dalam hatiku
Terpatri di dalam jiwaku

Tiba-tiba hujan turun dengan deras
Disertai angin datang menghempas
Menghempaskan hati dan jiwaku
Hingga aku tak perdaya karena cinta yang semu

Oh... Tuhan, tuntunlah hambamu yang lemah ini
Telah terpedaya oleh kenikmatan yang tak hakiki
Hingga melupakan karunia yang abadi
Ternyata hanya kasihMu yang tak pernah berhenti





Sabtu, 19 April 2014

Menunggu Bintang

0
Sang mentari mulai temggelam di ufuk barat. Itu suatu pertanda bahwa tugasnya telah berakhir. Langit mulai dihiasi oleh kiasan berwarna jingga. Seiring datangnya warna gelap yang menyelimuti langit biru, kiasan berwarna jingga perlahan menghilang. Awan hitam datang berarak-arak menutupi indahnya malam. Kecantikan malam semakin memudar.

Aku duduk di sini. Di bawah langit yang semakin kelam. Aku menunggumu. Menunggu bintang yang engkau janjikan. Bintang yang bersinar terang. Tapi tak satupun bintang yang tampak di sini. Yang ada hanyalah sepi. Begitu sepi sesepi hatiku. Gelap segelap rasa yang ada di dalam jiwaku. Rintihan kerinduan begitu menyayat.

Rembulan yang biasanya menghiasi indahnya malam tak jua ada di atas sini. Yang ada hanyalah gelap. Kecantikan wajah sang rembulan tak tampak karena dihalangi oleh gumpalan awan hitam. Wajah cantik sang rembulan yang anggun menjadi murung dan sedih. Dia sangat kecewa. Seperti kekecewaan dalam hatiku. Sejak senja dia sudah bersolek dan ingin menampakan wajah cantiknya, tapi awan gelap menghalanginya.

Aku masih di sini. Tetap menunggu hingga larutpun tiba. Tapi bintang yang kau janjikan tak jua datang. Yang ada hanya rintihan binatang malam yang kedinginan. Seperti rintihan dalam hatiku yang menunggumu dalam kesepian.

Teman malamku pun mulai berdatangan. Hembusan angin malam mendayu-dayu. Melantunkan lagu kerinduan. Membisik syair-syair kesedihan. Seolah-olah mengiris hati yang kesepian. Rasa dinginnya begitu menusuk di kalbu.

Malam semakin larut. Aku tetap di sini, tapi bintang yang kau janjikan tak jua datang. Rasa benci dan rindu mulai datang menyelimuti hatiku. Dua rasa ini bak dua mata pisau yang sama tajamnya menusuk ke dalam dadaku. Begitu perih. Begitu pedih. Tapi kau tak pernah peduli.

Gerimis mulai turun. Menyapu debu-debu di atas dedaunan. Aku segera mencari tempat untuk berteduh. Tapi aku tak jua menyerah. Aku berharap setelah hujan reda, bintang yang kau janjikan akan muncul di atas sana.

Hujan semakin deras. Sederas air mata yang meleleh di pipiku. Tapi engkau tak pernah tahu. Apa yang terjadi di sini. Aku tetap menunggu hingga malampun berakhir. Bintang yang kau janji tak pernah datang. Hanya air mata yang menjadi saksi kepedihan hati ini. 

Kamis, 17 April 2014

Kekasih abadi

0
Kasih...
Dalam setiap detak jantungku
Dalam setiap desah napasku
Ku sebut namaMu
Menghiasi relung hatiku.

Selama hela napas ini masih berbaur dengan denyut nadiku
Aku selalu mengingatMu
Karena Kaulah kekasih yang tak pernah meninggalkanku.
Meskipun aku kadang lalai dengan panggilanMu.

Kau tak pernah memintaku untuk dekat denganMu,
Tapi Kau selalu mengawasi dan menjagaku.
Kau tak pernah mencampakanku
Meskipun dosa dan nista mengalir dalam darahku.

Kaulah Sang Penguasa hati
Kaulah Kekasih abadi
Penyejuk jiwa dalam dahaga
Pengampun dalam noda dan dosa

              Samarinda, 17 April 2014
              by : Ainun Sugianto


Senin, 17 Maret 2014

MISTERI CINTA PUTRI BERCADAR

0
Lamat-lamat ku dengar suara Adzan Shubuh. Riuhnya ayam berkokok bersahut-sahutan seolah-olah ingin menjawab gema suara adzan. Badan masih ingin menggeliat, mata ini masih terasa berat untuk dibuka. Tapi aku berusaha menyibak selimut. Aku tak ingin kehilangan waktuku untuk menyampaikan rasa rinduku kepada kekasihku. Kekasih yang menciptakanku dan yang memberiku desah nafas sampai detik ini. Yaitu Allah yang menguasai semesta alam.

Usai menunaikan ibadah sholat shubuh ku nikmati segarnya air putih untuk membasahi kenggorokanku yang telah mengering. Ku buka jendela, ku rasakan sejuknya udara pagi seolah berebut masuk ke dalam ruangan. Ruangan yang pengap, karena telah dipenuhi oleh karbon dioksida semalaman.

Di luar sana, alam persada begitu indah menakjubkan. Keindahannya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Pohon-pohon pinus berayun-ayun diterpa oleh angin. Daun-daunnya seolah-olah ingin berjabatan. Harum aromanya begitu khas. Aroma khas alami. Hutan pinus yang belum terjamah oleh polusi.

Ku ayunkan langkah kakiku. Aku ingin menikmati indah pagi dan menyambut senyum sang mentari. Sejuknya embun pagi masih terasa membasahi telapak kakiku. Jalanan setapak ini masih ditumbuhi oleh rimbunnya rerumputan.

Aku terus berjalan, hingga aku tak sadar bahwa aku sudah jauh meninggalkan tempat tinggalku. Dan telah jauh masuk ke dalam hutan. Aku ingin kembali pulang. Aku tak ingin terlalu jauh di dalam hutan dan membuatku tersesat. Tapi ketika ku membalikan badanku, tiba-tiba aku dikejutkan oleh sosok seorang wanita. Aku tersentak.

“Benarkah apa yang ku lihat ini? Mungkinkah ada seorang wanita yang tinggal di dalam hutan ini?” Tanya dalam hatiku.

Tubuhku jadi gemetaran. Bulu kudukku terasa berdiri. Aku jadi berhalusinasi.
“Mungkinkah dia bukan manusia? Atau dia seorang bidadari atau peri yang tersesat di hutan ini?” Tanya dalam hatiku lagi.

Aku ingin berlari sejauh mungkin. Meninggalkan tempat ini, sebelum dia melihatku. Tapi jauh di dalam lubuk hatiku masih merasa penasaran. Siapakah sebenarnya wanita itu. Kalau dilihat dari bentuk tubuhnya sepertinya dia wanita yang sangat cantik. Sebelum dia berbalik badan dan melihatku. aku berusaha bersembunyi di balik rimbunnya pepohonan.

Di balik pohon itulah aku merasa aman. Aku bisa melihat gerak gerik wanita itu. Aku bisa leluasa memperhatikan dia dan dia tidak akan melihatku. Hatiku semakin penasaran. Rasa ingin tahuku semakin besar. Siapakah sebenarnya wanita itu?

Ketika dia membalikan badannya, aku merasa lega karena aku akan melihat raut wajah wanita itu. Oh... tapi ternyata aku tak dapat melihat raut wajah wanita itu, karena dia memasang cadar untuk menutupi wajahnya. Cadarnya begitu lucu. Berupa raut wajah gadis cilik yang menggemaskan. Aku semakin ingin tahu, apa maksud wanita itu. Kenapa di dalam hutan seperti ini dia menggunakan cadar? Apakah dia buruk rupa? Atau wajahnya cacat karena kecelakaan?
Karena aku merasa penasaran, maka akupun memberanikan diri menghampiri wanita itu. Dia sepertinya terkejut dengan kehadiranku. Lalu dia berkata: “Hai... siapa kamu?” Sapa wanita itu jutek.

“Aku tersesat sahabat, bisakah kamu membantuku keluar dari hutan ini.” Jawabku beralasan.

“Oh... dimana rumahmu?” Tanya dia lebih datar

“Di pinggir hutan ini, tapi aku tidak tahu ke arah mana jalan pulang.” Jawabku cemas.

“Ayolah... aku temani kamu mencari jalan pulang.” Ajaknya tulus.

Kamipun berjalan beriringan melewai jalan setapak. Hatiku merasa lega karena dia menunjukan sikap bersahabat denganku. Aku terus memperhatikan dia. Dilihat dari penampilannya wanita ini begitu anggun. Tapi hatiku masih diliputi rasa ingin tahu, kenapa dia menutupi wajahnya dengan cadar.

“Boleh aku tahu sahabat, kenapa sahabat mengenakan cadar untuk menutupi wajahmu?” Sapaku memecahkan keheningan.

“Karena aku tidak ingin orang lain melihat wajahku.” Jawabnya santai.

“Oh... apakah kamu juga ingin menyembunyikan wajahmu dariku?” Tanyaku masih penasaran.

“Ho oh.” Jawabnya singkat.

“Ayolah sahabat...  kamu sudah bersedia menolongku, janganlah engkau menganggapku orang lain, maukah kamu membuka cadarmu, agar aku bisa mengenali wajahmu.” Dengan berbagai cara aku membujuknya.

“Tapi kamu harus berjanji kepadaku, bahwa kamu bersedia merahasiakan hal ini!” Pintanya serius.

“Ok... aku janji, takkan ada seorangpun yang akan mengetahui pertemuan kita ini.” Jawabku serius.

Kami berhenti sejenak. Sembari beristirahat kami duduk di atas batang pohon besar yang hampir roboh. Dan dengan perlahan wanita di hadapanku ini mulai berusaha membuka cadar yang menutupi wajahnya. Aku berusaha membantunya karena dia tampak sedikit kesulitan membuka cadarnya. Aku terperangah setelah aku melihat raut wajahnya. Wajahnya terlihat elok dan rupawan.

Seraya berdecak kagum aku bertanya :”Wajah sahabat tampak begitu elok dan bersahaja, tapi kenapa sahabat menutupi wajah sahabat?”

Dia hanya tersenyum tanpa mengucap sepatah kata. Pandangan matanya jauh ke depan, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Aku semakin ingin tahu apa yang ada di benak wanita itu.

“Ku kira sahabat memiliki wajah yang sangat buruk atau cacat, sehingga sahabat malu memperlihatkan wajah sahabat.” Bibirku sudah tak tahan lagi ingin berucap.

“Aku menyembunyikan wajahku, karena aku tak ingin ada laki-laki yang jatuh cinta kepadaku, jika melihat wajahku.” Dia mulai berterus terang.

“Kenapa demikian sahabat, sedangkan di luar sana banyak wanita memamerkan tubuh dan wajahnya, agar dia dicintai oleh banyak lelaki, tapi sahabat malah tidak ingin dicintai oleh lelaki manapun.” Ucapku beralasan.
“Cinta hanya membawa penderita bagiku, cintaku telah pergi… entah kemana, setelah aku begitu menyitainya.” Ucapnya terbatah-batah.

Mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Rupanya penderiataan cintanyalah, yang membuat dia jerah dan tak ingin dicintai lagi. Kini aku mulai mengerti mengapa dia menutupi wajah cantiknya dengan cadar.

“Tapi… di hutan ini tak ada siapa-siapa sahabat, tak ada manusia lain selain kita berdua dan tidak akan ada laki-laki yang jatuh cinta dengan kecantikan sahabat.” Tambahku kemudian.

Dia hanya tersenyum, penuh tanda tanya kepadaku. Kemudian dia berucap : “Sahabat terlalu jauh berjalan, sehingga sahabat tidak sadar bahwa sahabat sedang tersesat.”

Aku meninggikan pundakku, karena aku masih binggung. Aku benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi pada diriku.

“Ini bukan hutan sahabat, ini Dunia Maya, binatang jalang banyak berkeliaran di sekitar sini, jika mereka melihat wanita cantik, mereka pasang aksi untuk godain kita.” Jelasnya tegas.

Aku hanya geleng-geleng kepala, seakan-akan aku tak percaya apa yang telah terjadi….




 

Blog List