Ada dua hati yang saling merindu
Melewati malam yang membisu
Kelam dalam khayalan
Sunyi dalam impian
Hanya suara yang saling menyapa
Terdengar begitu syadu di telinga
Melantunkan lagu kerinduan
Membisikan syair penuh kehangatan
Sejuta kerinduan melebur dalam jiwa
Menantikan kekasih tercinta
Hanya titik-titik air mata
Sebagai saksi ketulusan cinta
Meskipun jauh di seberang lautan
Pautan hati takkan terpisahkan
Menyatu dalam setiap denyutan di dalam dada
Mengalir dalam setiap napas yang mendesah
Label:
Puisi
Sabtu, 30 Mei 2015
Selasa, 30 September 2014
KISAH PANGERAN DUMAY DAN PUTRI BERCADAR
0
Diposting oleh
Unknown at 15.17
Ada seorang pangeran tampan. Dia merasa bosan dengan
hingar bingar dunia maya. Dia merasa jenuh melihat ulah gadis-gadis yang begitu glamor. Dia merasa tak
nyaman lagi dipameri paha dan dada yang selalu membuai halusinasinya. Dia
ingin mencari ketenangan jiwa. Dia ingin meninggalkan dunia glamor yang hanyalah suatu
kenikmatan dunia semata. Kenikmatan yang bersifat sementara.
Dia ingin melakukan perjalanan. Menikmati indahnya alam
yang asri dengan rimbunnya pepohonan. Menikmati segarnya udara pagi yang nyaman
tanpa polusi. Dengan bekal seadanya dia berjalan memasuki sebuah hutan.
Dengan tas ransel di punggungnya dia terus berjalan tanpa
mengenal lelah. Dan sesekali dia memetik sebatang ranting kering. Sambil
berjalan dipatah-patahkannya ranting itu hingga tak tersisa lagi di tangannya.
Lalu dia memetik ranting kering lagi dan dia patah-patahkan lagi hingga habis.
Setelah kakinya mulai merasa lelah, dia berhenti dan mencari tempat untuk beristirahat. Di
bawah sebatang pohon yang rindang, dia berhenti dan meletakan tas ransel yang ada punggungnya. Lalu dia duduk seraya menyandarkan punggungnya di pohon itu. Dia
mengambil bekal air minum di dalam tas yang ada di sampingnya. Dia ingin
membasahi tenggorokannya yang mulai mengering.
Sambil menikmati pemandangan alam yang elok bersahaja, dia
ingin menghirup udara segar alami yang bebas dari polusi. Dia melihat-lihat
alam di sekelilingnya. Bebatuan, pepohonan dan rumput ilalang. Suara
suitan burung-burung liar bersaut-sautan adalah harmoni alam yang menentramkan
jiwanya.
Ketika mata sang pangeran menatap jauh ke depan. Dia
tersentak, sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Nan jauh di sana,
dia melihat sekelebat bayangan manusia. Terlihat samar-samar, bayangan itu membuat
sang pangeran semakin penasaran. “Mungkinkah ada manusia lain, selain diriku di dalam hutan ini?” itulah yang berkecamuk di dalam benak sang pangeran
saat itu.
Sang pangeran beranjak dari tempat duduknya. Seraya
meletakan kembali tas ransel di atas punggungnya, dia berjalan pelan-pelan.
Dengan berhati-hati dia mulai mendekati bayangan itu. Seperti sang pemburu yang
sedang mengintai buruannya. Semakin dekat sang pangeran semakin berhati-hati
karena bayangan itu semakin terlihat sempurna. Dia bersembunyi di balik pohon
dan semak belukar, agar intaiannya tidak melihat dirinya.
Ketika bayangan itu terlihat semakin jelas, sang pangeran
tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Ternyata bayangan itu adalah sosok
seorang wanita. Dia terus mengusap-usap matanya dan membelalakan matanya di balik
rimbunnya pepohonan. Karena dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. “Mungkinkah ada seorang wanita yang tinggal di hutan ini... atau dia seorang peri...” Pertanyaan itu terus terbersit di dalam benaknya.
Dia terus memperhatikan wanita itu. Sepertinya dia sedang
memetik sayuran dan buah. Sang pangeran semakin dibuat penasaran, karena dia
tidak bisa melihat raut wajah wanita itu. wanita itu terus membelakangi sang
pangeran, sehingga dia terus berusaha mencari posisi yang tepat, agar bisa
melihat raut wajah wanita itu. “Meskipun pakaian yang
dikenakan oleh wanita itu begitu
sederhana tapi wanita itu terlihat anggun, tentunya dia seorang wanita yang berparas cantik jelita.” Bisik dalam hati sang
pangeran.
Rupanya wanita itu sudah selesai memetik sayuran dan
buah. Dia mengangkat keranjang dan menjijing keranjang yang sudah penuh dengan
sayuran dan buah. Sang pangeran terus memperhatikan gerak gerik wanita itu.
Sang pangeran terlihat sedikit lega karena wanita itu membalikan badan, dengan
begitu sang pangeran bisa melihat raut wajah wanita itu.
“Hah... oh oh” sang pangeran kembali dibuat terkejut,
setelah wanita itu membalikan badannya, karena sang pangeran tetap saja tidak
bisa melihat raut wajah wanita itu. Ternyata wanita itu menutupi wajahnya
dengan cadar. Cadar yang dipasang wanita itu terlihat
lucu. Cadar yang bergambar
wajah gadis kecil yang manis dan imut. Sang pangeran terlihat sangat kecewa dan
terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri “Apakah dia seorang wanita yang buruk rupa, atau wajahnya
cacat sehingga dia menutupi wajahnya dengan cadar dan dia malu dengan orang-orang
di sekelilingnya, sehingga dia mengasingkan diri di hutan ini.
Wanita bercadar itu berjalan ke arah sang pangeran sambil
menjijing keranjang sayurnya. Sang pangeran berusaha menyembunyikan dirinya di
balik rimbunnya pepohonan agar kehadirannya tidak diketahui oleh wanita itu. Sambil
mengendap-endap Sang pangeran berusaha mengikuti wanita itu. Sang pangeran semakin
penasaran, rasa ingin tahunya semakin besar terhadap wanita itu.
Oh…
ternyata di dalam hutan ini ada sebuah pondok. Podok sederhana yang terbuat dari kayu. Rupanya di pondok itulah wanita
bercadar itu tinggal. Wanita
bercadar itu buru-buru masuk ke dalam pondok dan menutup kembali pintu pondok dengan rapat.
Di pondok
sederhana inilah putri bercadar melakukan kegiatan sehari-hari. Memasak,
mencuci dan kegiatan yang lainnya. Dia selalu mengenakan cadar bila keluar dari
pondok, tapi jika di dalam pondok dia membuka cadarnya. Walaupun sendiri dan
jauh dari hingar-binger
kehidupan dunia, dia merasa injoy berada di tempat ini.
Sementara
itu di luar sana, Sang Pangeran semakin merasa penasaran. Apa yang terjadi
dengan wanita itu sehingga dia mengasingkan diri di dalam hutan ini. Maka dia
segera mendirikan tenda. Tenda kemping yang berukuran kecil. Dia ingin menginap
di hutan ini. Dia sangat penasaran dengan wanita bercadar itu. Dia memasang tendanya
di balik semak belukar, agar kehadirannya tidak diketahui oleh wanita bercadar
itu.
Malam
telah tiba. Sang rembulan tampak begitu sempurna. Raut wajahnya yang cantik
selalu tersenyum. Menghiasi langit ditemani sang bintang. Suara burung malam
mengalunkan melody kerinduan. Begitu syadu terdengar mendayu-dayu.
Sang
pangeran mulai menyalakan lampu emergency sebagai alat penerangan di dalam tendanya.
Untung saja dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk bekal, jika sewaktu-waktu dia harus
menginap di dalam hutan, termasuk bekal makanan.
Sementara
itu di dalam pondok terlihat samar-samar cahaya lentera. Cahaya yang menerangi ruangan
di dalam pondok itu. Sang pangeran selalu memperhatikan pondok itu, terutama
pintu pondok, karena sang
pangeran selalu berharap dia bisa melihat wanita bercadar itu keluar dari
dalam pondok. Tapi dari mulai sang pangeran berada di tempat itu, hingga malam tiba wanita bercadar itu tidak pernah keluar lagi
dari pondoknya.
Rasa
ingin tahu yang begitu besar membuat sang pangeran memberanikan diri untuk
mendekati pondok itu. Dia ingin tahu apa saja yang dilakukan wanita bercadar
itu di dalam pondok. Di selah-selah lubang dinding kayu, sang pangeran mulai
mengintip. Berkali-kali dia mencoba menemukan dimana gerangan wanita bercadar
itu berada.
Namun
pada akhirnya sang pangeran menemukan wanita itu di dalam kamarnya. Hati sang
pangeran pun merasa lega. Rupanya wanita bercadar itu sudah bersiap-siap
mendekap malam. Dan mengukir mimpi indahnya. Rambutnya yang panjang hitam legan
diurai. Cadar yang menutupi wajahnya pun dilepas. Tapi sayang, sang pangeran
belum bisa melihat wajahnya karena posisi wanita bercadar membelakangi sang
pangeran.
Walaupun
sang pangeran tidak bisa melihat wajahnya tapi sang pangeran tidak mau beranjak
dari tempat itu. Dia tetap menunggu sampai wanita bercadar itu terlelap.
Sebentar kemudian ruangan menjadi gelap dan sang pangeran tidak melihat apa-apa
lagi. Rupanya wanita bercadar itu sengaja mematikan lentera di saat dia bobo.
Sebelum
sang pangeran beranjak dari tempat dia berdiri, dia mendengar suara wanita itu.
Sang pangeran mendekatkan telinganya di balik dinding pondok agar bisa
mendengarkan lebih jelas suara wanita bercadar itu. Rupanya wanita bercadar itu
sedang memanjatkan do’a sebelum bobo. Sang pangeran terbuahi dengan suaranya
yang lembut, begitu terdengar begitu merdu di
telinganya.
Setelah
suara wanita bercadar itu menghilang, sang pangeran beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Rupanya
wanita bercadar itu sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Sang pangeran pun
kembali ke tendanya. Dia baringkan tubuhnya di atas tikar sebagai alas tidurnya.
Tapi matanya tidak juga mau terpejam. Di telinganya masih terngiang suara merdu
wanita bercadar itu. Begitu membekas, hingga lafat do’a yang dia panjatkan
tersimpan lekat di dalam memori ingatannya.
Malam
semakin larut. Kesunyian semakin mendekap. Walau mata sang pangeran terpejam
rapat tapi hatinya tetap terjaga. Ada kerinduan yang menggoda hatinya. Kerinduaan untuk melihat wajah asli wanita yang menghuni
pondok kayu itu. Dia berharap malam segera berlalu dan dia
bisa melihat wanita bercadar itu keluar dari pondoknya esok pagi.
Dinginnya udara pagi menyadarkan sang pangeran, bahwa waktu
yang dia tunggu-tunggu telah tiba. Sang pangeran bergegas membuka tendanya. Dia
segera mengenakan jaketnya untuk melawan rasa dingin yang menusuk kulitnya. Lalu
keluar dari tenda. Pandangan matanya langsung tertuju ke arah pondok, dimana
wanita bercadar itu tinggal. Seperti biasa dia selalu mengintai agar
kehadirannya tdak diketahui oleh wanita bercadar itu.
Suasana alam begitu harmonis. Nyanyi burung-burung
menyapa begitu riang. Mereka terbang dan kemudian bertengger di atas dahan
berpsang-pasang. Ayunan daun-daun pinus seolah menari-nari, menghempaskan embun
pagi dan jatuh di atas rerumputan. Mentari pagi mulai tersenyum. Sinarnya
membias menerobos di selah-selah dedaunan.
Sementara itu, di dalam pondoknya, wanita bercadar telah usai
menunaikan sholat shubuh. Dia ingin menikmati indahnya alam dan menyambut
senyum sang mentari. Menghirup udara pagi nan segar, memandang indahnya alam
nan hijau berseri.
Dia membuka jendela kamarnya. Tanpa mengenakan cadar lagi,
dia duduk seraya menempelkan dagunya di atas kusen cendela. Dia tidak sadar,
jika ada seseorang yang telah mengintainya. Dia tidak tau, jika ada seseorang
yang selalu menantikan momentum ini. Yaitu wanita bercadar memperlihatkan paras
cantiknya. Paras cantik yang alami, tanpa polesan bedak. Mata yang berbinar
tanpa hiasan eyeshadow. Dan bibir yang indah tanpa goresan lipstik.
Sang pangeran merasa takjub dengan kecantikan wanita itu.
Ternyata penatiannya selama semalam tidaklah sia-sia. Apa yang dia harapkan
akhirnya datang juga. Yaitu bisa melihat wajah wanita bercadar yang membuat dia
penasaran.
Tapi dalam hati sang pangeran masih bertanya-tanya.
Mengapa wanita itu menyembunyikan wajah cantik di balik cadarnya? Mengapa
wanita itu mengasingkan diri di dalam hutan ini? Apa alasan wanita itu
mengenakan cadar? Padahal dia bukan wanita yang buruk rupa. Padahal kecantikan
wanita itu begitu sempurna. Tanpa polesan kosmetik dia tetap cantik bersahaja.
Rasa ingin tau yang begitu besar membuat sang pangeran
ingin mendekati wanita itu. Dan pesona wanita itulah yang telah melulukan hati
sang pangeran. Dia enggan kembali ke dunia maya. Dia berniat tinggal di sini
agar dia selalu dekat dengan pujaan hatinya.
Label:
Cerpen
Jumat, 15 Agustus 2014
Manfa'at Buah Naga
0
Diposting oleh
Unknown at 13.59
Dulu buah yang berasal dari negeri paman Sam ini, sangatlah langka. Tapi karena sekarang banyak petani yang mbudidayakan buah ini, maka buah yang dengan nama latinnya "hylocereus polyrhizus" ini sudah banyak kita temui di toko" buah, bisa juga kita temukan di lapak pedagang buah di pinggir jalan. Harganya pun cukup terjangkau dan berfariasi. Dari 15 ribu s/d 30 ribu perkilo gram.
Selain rasanya yang manis dan segar buah ini kaya akan zat dan nutrisi yang bermanfa'at tubuh kita, seperti:
Selain rasanya yang manis dan segar buah ini kaya akan zat dan nutrisi yang bermanfa'at tubuh kita, seperti:
- Gula alami
- Serat
- Betakaroten
- Kalsium
- Lemak
- Fosfor
- Vitamin Bi, B2, dan C
- Protein
- dan zat" lain yang bermanfa'at bagi kesehatan.
Kandungan Serat (Fiber) dan Betakarotin yang tinggi, maka buah Naga memiliki 10 manfa'at tubuh kita.
10 Manfa'at buah Naga:
- Meningkatkan kekebalan tubuh
- Menghambat penuaan dini
- Meningkatkan nafsu makan
- Mencegah kangker
- Memperkuat tulang dan gigi
- Menurunkan kadar kolesterol
- Mencegah diabetes melitus
- Merawat kesehatan mata
- Merawat kelembutan dan kesehatan kulit
- Merawat jantung agar tetap sehat
Demikian sahabat Ladymate, info kesehatan yang dapat saya bagikan kepada anda.
*SEMOGA BERMANFA'AT*
Label:
Serba Serbi
Kamis, 24 Juli 2014
Badai Kehidupanku
0
Diposting oleh
Unknown at 11.22
Hujan....
Tetesmu menyentuh kulitku
Dinginmu menusuk hatiku
Menghancurkan semangat hidupku
Meluluhlantakan segala asah
Hingga aku jatuh dilanda gelisah
Angin....
Derasmu mengguncang raga
Menerpa hati yang dilanda duka
Merebahkan jiwa yang sedang lara
Merampas semua kebahagiaan
Hingga aku terpuruk dalam kesedihan
Label: Puisi
Tetesmu menyentuh kulitku
Dinginmu menusuk hatiku
Menghancurkan semangat hidupku
Meluluhlantakan segala asah
Hingga aku jatuh dilanda gelisah
Angin....
Derasmu mengguncang raga
Menerpa hati yang dilanda duka
Merebahkan jiwa yang sedang lara
Merampas semua kebahagiaan
Hingga aku terpuruk dalam kesedihan
Label: Puisi
Jumat, 20 Juni 2014
Mawar Yang Terhempas
0
Diposting oleh
Unknown at 13.01
Senja yang kelam. Langit tertutup oleh awan hitam. Gelap... seperti hari sudah hampir malam. Sang mentaripun bersembunyi dibalik rimbunnya awan hitam. Sekelompok burung walet berarak, ingin kembali ke sarangnya.
Aku masih berdiri di sini. Di bawah sebatang pohon dengan dedaunan yang rimbun. Di sinilah aku biasanya menunggunya. Setiap waktu jika aku ingin melepaskan rindu. Walau hanya sekejap. Walau hanya menikmati pandangan matanya. Walau tanpa pelukan hangat, tapi kedatangannya tetap ku nantikan. Tuk menjawab tutur sapanya. Tuk sekedar mendengar cerita indahnya.
Titik-titik air hujan telah turun. Membasahi dedaunan yang berdebu. Membasahi jalanan, membasahi apapun yang ada di atas bumi. Tapi aku belum ingin beranjak dari tempatku berdiri. Aku berpikir, "mungkin dia sedikit terlambat datang." Untuk itu aku ingin bersabar. Biarlah rambut dan bajuku sedikit basah. Masih ada rimbunnya dedaunan, tempatku berteduh.
Mata ini sedikitpun tak mau berkedip, terus memandang ke arah, dimana biasanya dia datang. Aku tak ingin melewatkan waktu sedetikpun. Dan kehilangan moment yang mendebarkan hati ini. Dimana saat pertama kali aku menatap matanya yang penuh keteduhan.
Karena kesabaranku, akhirnya yang ku tunggu-tunggu datang juga. Jantung ini mulai berdetak dengan kencang. Dalam hati, aku ingin berteriak memanggilnya. Tapi bibir ini terasa pelu. Tak sanggup mengucap, walau hanya sepatah kata. Bisu... hanya gemuruh air hujan yang menyeruak. Titik-titiknya deras menguyur tubuhku. Aku tetap menunggunya sampai dia melihatku dan menyapaku.
Tapi apa yang ku harapkan, hanyalah sebuah angan-angan. Jangankan menyapaku, menoleh ke arahku saja dia tak sudi lagi. Apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa dia tak meliahatku di sini? Yang sedang menunggunya.
Kenapa dia tak peduli lagi denganku? Apakah dia sudah tak ingat lagi, mawar merah yang selalu dia kirimkan kepadaku. Mawar digenggamanku tak terasa jatuh terhempas. Hanyut dibawa air hujan.
Aku masih berharap dia kembali. Atau menoleh ke arahku dan melihatku yang sedang tersungkur memunguti untaian mawar yang tercecer di atas air hujan. Aku berharap dia menaruh belas kasihan kepadaku, sehingga dia menolongku, memunggut setangkai mawar untukku.
Tapi apa yang ku harapkan tak pernah terjadi. Dia membiarkan aku sendirian. Kepedian hati ini tak berhenti sampai di sini. Ternyata dia kembali lewat di depanku bersama wanita lain. Berjalan sepayung berdua dan seolah-olah tidak melihatku. Betapa hancur hati, ceceran mawar ku biarkan hanyut dibawa air hujan. Karena durinya telah menusuk hatiku.
Apa yang terjadi sungguh membuat tubuhku lunglai. Kepedihan hati ini terasa perih. Aku berjalan tanpa arah tujuan. Melewati malam yang gelap. Menerjang hujan yang tak kunjung redah. Seperti derasnya air mata yang meleleh di pipiku.
Label: Cerpen
Aku masih berdiri di sini. Di bawah sebatang pohon dengan dedaunan yang rimbun. Di sinilah aku biasanya menunggunya. Setiap waktu jika aku ingin melepaskan rindu. Walau hanya sekejap. Walau hanya menikmati pandangan matanya. Walau tanpa pelukan hangat, tapi kedatangannya tetap ku nantikan. Tuk menjawab tutur sapanya. Tuk sekedar mendengar cerita indahnya.
Titik-titik air hujan telah turun. Membasahi dedaunan yang berdebu. Membasahi jalanan, membasahi apapun yang ada di atas bumi. Tapi aku belum ingin beranjak dari tempatku berdiri. Aku berpikir, "mungkin dia sedikit terlambat datang." Untuk itu aku ingin bersabar. Biarlah rambut dan bajuku sedikit basah. Masih ada rimbunnya dedaunan, tempatku berteduh.
Mata ini sedikitpun tak mau berkedip, terus memandang ke arah, dimana biasanya dia datang. Aku tak ingin melewatkan waktu sedetikpun. Dan kehilangan moment yang mendebarkan hati ini. Dimana saat pertama kali aku menatap matanya yang penuh keteduhan.
Karena kesabaranku, akhirnya yang ku tunggu-tunggu datang juga. Jantung ini mulai berdetak dengan kencang. Dalam hati, aku ingin berteriak memanggilnya. Tapi bibir ini terasa pelu. Tak sanggup mengucap, walau hanya sepatah kata. Bisu... hanya gemuruh air hujan yang menyeruak. Titik-titiknya deras menguyur tubuhku. Aku tetap menunggunya sampai dia melihatku dan menyapaku.
Tapi apa yang ku harapkan, hanyalah sebuah angan-angan. Jangankan menyapaku, menoleh ke arahku saja dia tak sudi lagi. Apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa dia tak meliahatku di sini? Yang sedang menunggunya.
Kenapa dia tak peduli lagi denganku? Apakah dia sudah tak ingat lagi, mawar merah yang selalu dia kirimkan kepadaku. Mawar digenggamanku tak terasa jatuh terhempas. Hanyut dibawa air hujan.
Aku masih berharap dia kembali. Atau menoleh ke arahku dan melihatku yang sedang tersungkur memunguti untaian mawar yang tercecer di atas air hujan. Aku berharap dia menaruh belas kasihan kepadaku, sehingga dia menolongku, memunggut setangkai mawar untukku.
Tapi apa yang ku harapkan tak pernah terjadi. Dia membiarkan aku sendirian. Kepedian hati ini tak berhenti sampai di sini. Ternyata dia kembali lewat di depanku bersama wanita lain. Berjalan sepayung berdua dan seolah-olah tidak melihatku. Betapa hancur hati, ceceran mawar ku biarkan hanyut dibawa air hujan. Karena durinya telah menusuk hatiku.
Apa yang terjadi sungguh membuat tubuhku lunglai. Kepedihan hati ini terasa perih. Aku berjalan tanpa arah tujuan. Melewati malam yang gelap. Menerjang hujan yang tak kunjung redah. Seperti derasnya air mata yang meleleh di pipiku.
Label: Cerpen
Kamis, 12 Juni 2014
Malam Nisfu Syaban
0
Diposting oleh
Unknown at 16.42
Ketika Purnama mulai membias di langit senja
Ku tatap langit tampak bercahaya
Sinar terangnya begitu bersahaja
Illahi Robbi sang Pencipta alam semesta
Ya... Allah
Ya... Robbi
Hambamu ingin mensucikan hati
Membersihkan segala noda
Memohon ampunan dari segala dosa
Ya... Allah
Aku bersujud di hadapanMu
Memohon atas berkahMu
Mudahkan kami mencari rizki
Lancarkanlah urusan duniawi
Ya... Allah
Aku bersimpuh di depanMu
Terangi hati dan jiwaku
Dengan rahmat dan hidayahmu
Mudahkanlah jalanku menuju surgamu
Label: Puisi
Ku tatap langit tampak bercahaya
Sinar terangnya begitu bersahaja
Illahi Robbi sang Pencipta alam semesta
Ya... Allah Ya... Robbi
Hambamu ingin mensucikan hati
Membersihkan segala noda
Memohon ampunan dari segala dosa
Ya... Allah
Aku bersujud di hadapanMu
Memohon atas berkahMu
Mudahkan kami mencari rizki
Lancarkanlah urusan duniawi
Ya... Allah
Aku bersimpuh di depanMu
Terangi hati dan jiwaku
Dengan rahmat dan hidayahmu
Mudahkanlah jalanku menuju surgamu
Label: Puisi
Kamis, 05 Juni 2014
Pemuja Cinta
0
Diposting oleh
Unknown at 16.13
Kasih....
Malam ini aku menunggumu
Menitih malam tuk membalut rindu
Ajaklah aku terbang ke awan
Dekaplah aku dalam pelukan
Kasih....
Cumbui harumnya mawar merahku
Sirami dengan kasih sayangmu
Hangatkan dengan tulus cintamu
Hingga menyatu jiwa dalam geliat tubuhku
Label: Puisi
Malam ini aku menunggumu
Menitih malam tuk membalut rindu
Ajaklah aku terbang ke awan
Dekaplah aku dalam pelukan
Kasih....
Cumbui harumnya mawar merahku
Sirami dengan kasih sayangmu
Hangatkan dengan tulus cintamu
Hingga menyatu jiwa dalam geliat tubuhku
Label: Puisi
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)



